Mengenal 5 Jenis Latihan Lari: Easy Run, Tempo, hingga Long Run
Ingin pace makin kencang dan napas makin panjang? Kenali perbedaan jenis latihan lari mulai dari Easy Run, Tempo Run, Interval, hingga Long Run.

Mengenal Jenis Latihan Lari, Ada Easy Run, Tempo Run, dan Long Run: Mana yang Harus Dilakukan?
Jika kamu selalu berlari dengan kecepatan yang sama setiap hari, perkembangan pace dan daya tahanmu lama-kelamaan akan stagnan. Memahami berbagai jenis latihan lari dan mengombinasikannya dalam jadwal mingguan adalah rahasia pelari rekreasional maupun atlet untuk berlari lebih jauh, lebih cepat, dan bebas cedera (Fakta Banten).
1. Easy Run (Lari Santai / Fondasi Aerobik)
Easy run dilakukan pada intensitas rendah (sekitar 60–70% detak jantung maksimal) di mana kamu masih bisa mengobrol dengan nyaman. Sebanyak 70–80% dari total jarak lari mingguanmu harus berupa easy run untuk memperkuat otot jantung dan kapiler darah tanpa membebani sendi.
2. Tempo Run (Latihan Ambang Laktat)
Dikenal sebagai lari "comfortably hard" (cepat namun terkontrol), tempo run dilakukan selama 20–30 menit pada kecepatan sedikit di bawah pace lomba 10K. Latihan ini meningkatkan batas lactate threshold sehingga otot tidak cepat pegal saat berlari kencang.
3. Interval Training (Latihan Kecepatan / VO2 Max)
Latihan lari cepat jarak pendek (misalnya 6 x 400 meter di Stadion Uwes Qorny / Pasir Ona) yang diselingi jalan atau jogging pelan. Sangat efektif untuk mendongkrak kapasitas oksigen maksimal (VO2 Max) dan efisiensi langkah.
4. Long Run (Lari Jarak Jauh Akhir Pekan)
Dilakukan 1 kali seminggu (biasanya Minggu pagi) dengan jarak 30–50% lebih jauh dari lari harianmu tetapi menggunakan pace santai. Long run melatih daya tahan mental serta kemampuan tubuh membakar lemak sebagai sumber energi.
5. Recovery Run (Lari Pemulihan)
Lari pendek 15–25 menit dengan kecepatan sangat santai sehari setelah latihan berat untuk melancarkan sirkulasi darah ke otot yang kaku. Yuk variasikan latihan mingguanmu bersama Lebak Runners di lebakrunners.id!


